Radarblitar.com – Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan mayoritas penduduk muslim di dunia. Maka, idealnya dengan kekuatan ini sejatinya negara kita memiliki peluang yang cukup tinggi dalam rangka mengembangkan sistem ekonomi berbasis syariah. 

Salah satu sektor yang dinilai memiliki peranan aktif, tidak lain adalah pesanten. Jika dulu, pesantren sekedar lembaga pendidikan, tempat para santri menimba ilmu agama. Di era modern seperti sekarang ini, pesantren bisa menjelma sebagai produsen produk-produk yang memiliki nilai jual terbaik, khususnya dengan sistem syariahnya.

Berdasarkan hal itu, akhir tahun 2020 kemarin, Pemprov Jatim secara resmi merilis program pemberdayaan sektor ekonomi pada pesantren. Program itu disebut One Pesantren One Product atau yang disingkat OPOP

Dalam program ini, Pemprov Jatim mendorong setiap lembaga pesantren turut andil dalam pasar internasional atau ekspor sebagai produsen. Tentu saja, program ini sangat apik tuk menanamkan spirit berwirausaha, terutama dalam menepis stigma bahwa saat ini pesantren tak hanya sekedar tempat mengaji, tetapi memiliki peranan mendongkrak ekonomi bangsa.

Menurut sekretaris OPOP Jatim, Muhammad Ghofirin, ia menjelaskan bahwa kesempatan bermain di pasar ekspor harus berani diambil oleh setiap pesantren. Menurutnya, sudah saatnya pesantren menggenjot pasar ekspor dengan produk-produk unggulan pesantren.

Agaknya, ini bukan sekedar angan-angan belaka, karena faktanya sudah banyak pesantren yang memiliki orientasi ekspor produk. Sebut saja seperti Pesantren Sunan Drajat, Paciran, Lamongan. Pesantren satu ini sudah memiliki debut di pasar ekspor dengan aktif bermain di pasar Thailand, Vietnam, Singapura, hingga Malaysia dengan produk unggulannya.

Maka Muhammad Ghofirin pun optimis, bahwa semua pesantren bisa mengoptimalkan program kemandirian ekonomi berbasis pesantren ini. Bahkan tak cukup Asia, berikutnya Eropa pun menjadi target ekspor yang menjanjikan. Dengan catatan, sertifikasi produk Eropa haruslah benar-benar diperhatikan agar bisa bersaing dengan produk dari negeri lain.
 

Salah satu produk yang saat ini banyak sekali diminati baik skala nasional maupun global, tidak lain adalah kopi. Selain komoditas ini memang khas Indonesia, faktanya kopi banyak ditekuni di setiap pesantren, bahkan bisa dicap sebagai ciri khas.

Kopi memang terkesan komoditas yang biasa, namun dengan tangan-tangan kreatif, kopi bisa disulap menjadi produk olahan yang bernilai dan harga jual tinggi. Dan Gubernur Jatim, Khofifah Indar P berharap, tangan-tangan kreatif itu ada pada santri-santri yang turun menjalankan program OPOP.

Agar proses eksportasi itu berjalan maksimal, maka Prof. Dr. Hendro Wicaksono dari JUB Jerman turut hadir menjembatani dan mengawal proses itu. Menurutnya, program OPOP dari Pemprov Jatim sangat apik, serta memiliki potensi yang sangat besar di pasar Eropa, terutama Jerman. Apalagi dengan sertifikasi halal yang dikedepankan pesantren, tentu ini menjadi nilai jual tersendiri mengingat sulitnya mencari produk halal di daratan Eropa.

“Jika sudah ada pasar di Jerman, maka insyaallah bisa dikembangkan di titik – titik negara lain. Kita juga akan menyosialisasikan hal ini pada pihak KBRI dan KJRI,” tegasnya.

Kabarnya, pada pertengahan tahun 2021 ini, salah satu pesantren dari Sidoarjo yang melaksanakan program OPOP akan mengirim sampel berupa kaldu (makanan) ke Jerman. Menindaklanjuti itu, Prof Hendro menyambut baik, dengan sebuah pesan bahwa sebaiknya dalam kemasan kaldu itu turut disertakan komposisi atau kandungan secara detail.

Dengan adanya program One Pesantren One Product, Pemprov Jatim berharap kebangkitan ekonomi benar-benar bisa diwujudkan, dan pesantren menjadi pelopor produsennya. Tentu pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator, maka sukses atau tidaknya program ini perlu sinergitas dari berbagai elemen yang terkait, baik pemerintah, pesantren, dan elemen lainnya.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *